DOCTORPRENEURSHIP, PERLU ATAU TIDAK ?.

                   Oleh dr. Riki Tsan, SpM
Posting terakhir Prof Sidarta Ilyas di Forum Perdami ( http://www.facebook.com/groups/forumperdami/ ), yang menyitir 3 butir motto terkait dokter dan pedagang, mengingatkan saya akan sebuah perbincangan menarik di sebuah acara Temu Ilmiah  pada penghujung Maret 2012. Temu Ilmiah ini diberi tema BLINDNESS IS OUR RESPONSIBILITY.

Sungguh, baru kali ini saya menghadiri Scientific Meeting dimana sebuah sesi yang bernama Entrepreneurship Program diletakkan berurutan setelah Plenary Lecture. Mungkin Panitia menganggap sesi ini sedemikian pentingnya sehingga ditempatkan pada posisi yang begitu terhormat. Dan, baru kali ini juga saya memperoleh sebuah istilah baru, Doctorpreneurship !. Terminologi Doctorpreneurship ini muncul pada presentasi dr. Darwan Purba yang berjudul ; “Doctorpreneur : Is It Possible ?”.

Diantara presentator yang berbicara pada sesi Entrepreneurship Program ini ialah Bpk. Chairul Tanjung, konglomerat ‘kelas kakap’ ( Health Service as Prospective Business in Indonesia ), Bpk. Robby Djohan, yang dalam programme highlights , disebut sebagai CEO of Various Big Company in Indonesia   ( Good Inverstment in Health Service Bussiness )  serta  Brigjen TNI ( Purn) Dr.Mardjo Subiandono, Spesialis Bedah  ( How to get more profit in the hospital ) . Dan tentu saja, sejawat dr. Darwan Purba, SpM,  sebagai founder Jakarta Eye Centre, yang telah  kita kenal kiprahnya dan telah berhasil memperoleh national award sebagai entrepreneur yang sukses.

Pesan moral yang ingin digulirkan lewat konsep pemikiran ( paradigma ) Doctorpreneurship ini sebetulnya sangat mulia. Disebutkan, bahwa sebagai dokter mata Indonesia, kita harus ‘melek’ terhadap perkembangan teknologi dan ekonomi baik yang berskala global maupun regional . Kita harus menumbuhkan semangat kewiraswastaan khususnya terkait dengan bisnis di bidang kesehatan mata. Kita tidak boleh hanya sekedar menjadi penonton yang duduk diam berpangku tangan, terlebih lagi di saat ‘pihak asing’ menyerbu ‘rumah’ kita . Kita harus berani mengambil risiko untuk ikut  ‘bermain’ di dalamnya. Oleh salah seorang pembicara, hal ini diilustrasikan dengan seekor bebek  yang berani bersusah payah meniti jembatan untuk  menyeberang  kali  sementara  teman – temannya sesama bebek menonton di tepi kali. Dalam kesempatan lain, Brigjen TNI (Purn) Dr. Marjo Subiandono, SpB, secara rinci dan teknis, mendemonstrasikan bagaimana kita bisa mencapai break event point ( BEP )  dan meraup keuntungan dari para pasien kita  lewat  investasi alat – alat kesehatan yang harganya milyaran rupiah !.

Paradigma Doctorpreneurship ini segera dikritik oleh Robby Djohan. Menurut ekonom kondang ini, adalah mustahil untuk mengawinkan ‘dokter’ dengan ‘pebisnis (pedagang ) ’ di dalam satu personalitas’. Kenapa ?. Karena, kedua profesi ini memiliki sejumlah watak yang – secara inherent- bertolak belakang secara antagonistis. Ambil contoh, salah satu prinsip dalam sistem  ekonomi kapitalis yang saat sekarang mendominasi dunia bisnis ialah berusaha memperoleh keuntungan sebesar – besarnya dengan modal sekecil – kecilnya . Atau dalam kacamata dunia bisnis misalnya, para pebisnis   adalah para competitor yang harus saling  bersaing  satu sama lain.

Pertanyaannya ialah, apakah watak dunia bisnis  semacam ini senafas dengan karakter seorang dokter yang dituntut bekerja tanpa pamrih, keharusan melayani dengan tulus dan ikhlas serta penuh kasih sayang, peduli terhadap sesama , memperlakukan rekan sejawatnya yang lain  seperti saudara sekandung serta tidak memikirkan keuntungan materi demi memperkaya diri pribadi dalam melayani pasien ?.  Motto yang dikutip Prof.  Sidarta Ilyas menjawab singkat ; ” menjadi dokter itu adalah baik , menjadi pedagang juga baik, dokter yang pedagang tidak baik “. Lalu, ‘guru’   saya ini melanjutkan, ” sampai hari ini kita patut bersyukur karena tuhan telah menjadikan kita dokter. Pada masa semua serba rumit ini : dokter telah pula hanya mengejar uang “.

Ketika sesi tanya jawab dibuka, sejumlah audience, mengajukan pertanyaan maupun tanggapan, diantaranya Dr. Sribudi Rahardjo, SpM dan Prof.dr. Sidarta Ilyas, SpM (K) . Seingat saya, hanya   kedua sejawat ini saja yang  menggugat ‘upaya menyatukan dagang/bisnis di dalam profesi dokter’ .

Di daerah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, tutur dr. Sribudi Rahardjo,SpM, ketika menceritakan pengalaman pribadinya, pasien bahkan tidak sungkan – sungkan melakukan ‘tawar menawar’ dengan dokternya soal tarif biaya operasi katarak . Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat lainnya tidak mampu membiayai secara mandiri operasi katarak yang harus mereka jalani.

Menurut hemat saya, ini semua terjadi karena kemampuan daya beli masyarakat di daerah yang masih amat rendah. Karena itu, mempromosikan konsep doctorpreuneurship sebagai basis pemikiran  berdirinya ‘pusat pelayanan kesehatan mata ekslusif berbiaya tinggi ‘ yang tidak terjangkau oleh masyarakat di daerah justru kontraproduktif dengan upaya penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan yang diderita oleh sebagian besar masyarakat miskin atau masyarakat dengan tingkat sosioekonomi lemah. Jangan – jangan, tema Temu Ilmiah ini, sindir dr. Sribudi, harus kita ganti menjadi BLINDNESS IS OUR OPPORTUNITY.

Munculnya sejumlah  kekhawatiran akan terinternalisasinya  ‘watak/perilaku bisnis ( dagang )  ke dalam profesi dokter’  yang kemudian menampilkan sikap dan perilaku yang bertabrakan dengan Sumpah Dokter dan Kode Etik Kedokteran Indonesia, pada akhirnya mencuatkan sejumlah pertanyaan.

Pertama, apakah memang sudah saatnya sekarang kita menggadang – gadang pentingnya paradigma Doctorpreneurship ini di Indonesia ?.
Kedua, Dengan penerapan konsep Doctorpreneurship seperti yang disampaikan di dalam Temu Ilmiah itu, bisakah kita berharap dokter mata Indonesia masih memiliki spirit  Blindness is Our responsibility sebagai bagian dari upaya kolektif kita bersama untuk mengatasi masalah kebutaan di Indonesia ?. Padahal kita tahu – seperti sudah dipaparkan – bahwa sebagian besar penyandang kebutaan di Indonesia berada pada lapisan masyarakat dengan ekonomi lemah.
Dan terakhir, apakah memang sudah saatnya organisasi profesi Perdami berperan aktif mengkampanyekan dan menyosialisasikan paradigma Doctorpreneurship ini kepada para anggotanya dan menganggapnya sebagai bagian yang  penting untuk mewujudkan visi dan misi organisasi ?.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers