DOCTORPRENERSHIP,PERLU ATAU TIDAK (DIDISKUSIKAN )?

                                                                                                                                                                                                                                             Tanggapan terhadap tulisan dr.Riki Tsan, SpM :   “Doctorpreneurship, Perlu atau Tidak ?”

                                                                        

                                           

                  

Oleh dr. Budiman,SpM (K), Ketua Perdami Cabang Jawa Barat.


1.      Posting terakhir Prof Sidarta Ilyas di Forum Komunikasi Perdami yang menyitir 3 butir motto terkait dokter dan pedagang, mengingatkan saya akan sebuah perbincangan menarik di sebuah acara Temu Ilmiah  pada penghujung Maret 2012. Temu Ilmiah ini diberi tema BLINDNESS IS OUR RESPONSIBILITY.

DAGANG MENURUT SIAPA? MENURUT KAIDAH AL-QUR’AN ATAU LAIN-NYA?

Tidak ada yang salah dengan dagang dan berjiwa pedagang selama berdasar atas niat berdagang untuk dan atas nama siapa dan watak dagang yang mendasari niat individu.

Berikut kutipan beberapa tulisan untuk memperjelas argumen :

Pengungkapan perdagangan dalam Al-quran ditemui dalam tiga bentuk, yaitu tijarah (perdagangan), bay’ (menjual) dan Syira’ (membeli). Selain istilah tersebut masih banyak lagi term-term lain yang berkaitan dengan perdagangan, seperti dayn, amwal, rizq, syirkah, dharb, dan sejumlah perintah melakukan perdagangan global (Qs.Al-Jum;ah : 9). Kata tijarah adalah mashdar dari kata kerja yang berarti menjual dan membeli. Kata tijarah ini disebut sebanyak 8 kali dalam Alquran yang tersebar dalam tujuh surat, yaitu surah Albaqarah :16 dan 282 , An-Nisak : 29, at-Taubah : 24, An-Nur:37, Fathir : 29 , Shaf : 10 dan Al-Jum’ah :11.

Pada surah Al-Baqarah disebut dua kali, sedangkan pada surah lainnya hanya disebut masing-masing satu kali. Sedangkan kata ba’a (menjual) disebut sebanyak 4 kali dalam Al-quran, yaitu 1). Surah Al-Baqarah :254, 2). Al-Baqarah : 275, 3). Surah Ibrahim 31 dan 4. Surah Al-Jum’ah :9. Selanjutnya term perdagangan lainnya yang juga dipergunakan Al-quran adalah As-Syira. Kata ini terdapat dalam 25 ayat. Dua ayat di antaranya berkonotasi perdagangan dalam konteks bisnis yang sebenarnya, yaitu yang kisah al-quran yang menjelaskan tentang Nabi Yusuf yang dijual oleh orang menemukannya yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 21 dan 22.Demikian banyaknya ayat-ayat Al-quran tentang perdagangan, sehingga tidak mungkin dijabarkan dalam halaman yang amat terbatas ini. Karena itu tulisan ini hanya akan memaparkan salah satu konsep penting tentang perdagangan yang terdapat dalam Al-quran yaitu keharusan ummat Islam untuk go internasionaldalam perdagangan.Dalam surat al-Jum’ah ayat 10 Allah berfirman, ” Apabila shalat sudah ditunaikan maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah serta banyak-banyaklah mengingat Allah agar kalian menjadi orang yang beruntung.. Apabila ayat ini kita perhatikan secara seksama, ada dua hal penting yang harus kita cermati, yaitu (i) fantasyiruu fi al-ard (bertebaranlah di muka bumi) dan (ii) wabtaghu min fadl Allah (carilah anugrah/rezeki Allah). Redaksi fantasyiruu adalah perintah Allah agar ummat Islam segera bertebaran di muka bumi untuk melakukan aktivitas bisnis setelah shalat fardlu selesai ditunaikan. Ke mana tujuan bertebaran itu? Ternyata Allah SWT tidak membatasinya hanya sekadar di kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi, atau Indonesia saja. Allah memerintahkan kita untuk go global atau fi al-ard. Ini artinya kita harus menembus Timur Tengah, Eropa, Amerika, Australia, Jepang dan negar-negara Asia lainnya. Untuk apa kita bertebaran ke tempat-tempat tersebut? Allah menjawab bukan untuk tourism belaka, tetapi untuk berdagang dan mencari rezeki ”wabtaghu min fadl Allah” (M.Syafi’i Antonio,2003). Ketika perintah bertebaran ke pasar global Eropa, Australia, Amerika, Asika, Afrika, bersatu dengan perintah berdagang, maka menjadi keharusan bagi kita membawa goods and services dan komoditas ekspor lainnya serta bersaing dengan pemain-pemain global lainnya (Cina, Taiwan, Korea, India, Thailand, dan lain-lain). Menurut kaidah marketing yang sangat sederhana tidak mungkin kita bisa bersaing sebelum memiliki daya saing di 4 P: Products, Price, Promotion, dan Placement atau delivery. Hanya dengan produk yang inovatif dan kualitas yang memadai kita bisa merebut pasar. Produk yang inovatif baru akan laku bila dijual dengan harga (price) yang bersaing dan promosi yang efektif. Demikian juga nasabah baru akan setia dan terpuaskan bila kita menyerahkannya (placement) sesuai jadwal dan after sales service (layanan purna jual) yang prima. Dalam Surat al-Quraish Allah melukiskan satu contoh dari kaum Quraish (leluhur Rasulullah dan petinggi bangsa Arab) yang telah mampu menjadi pemain global dengan segala keterbatasan sumberdaya alam di negeri mereka. Allah berfirman, “Karena kebiasaan orang-orang Quraish. (Yaitu) kebiasaan melakukan perjalan dagang pada musim dingin dan musim panas.”Para ahli tafsir baik klasik, seperti al-Thabari, Ibn Katsir, Zamakhsyari, maupun kontemporer seperti, al-Maraghi, az-Zuhaily, dan Sayyid Qutb, sepakat bahwa perjalanan dagang musim dingin dilakukan ke utara seperti Syria, Turki, Bulgaria, Yunani, dan sebagian Eropa Timur, sementara perjalanan musim panas dilakukan ke selatan seputar Yaman, Oman, atau bekerja sama dengan para pedagang Cina dan India yang singgah di pelabuhan internasional Aden. Perintah Al-quran untuk melakukan perdagangan dengan go internasional ke manca negara telah dibuktikan oleh generasi Islam di masa kejayaan Islam. Peter L. Bernstein dalam buku The Power of Gold, (2000, p.66-67), menggambarkan kejayaan ummat Islam genarasi awal dalam melakukan perdagangan internasional..The Arabs had no difficulty accumulating a massif golden treasure.Their ceativity at the task was impressive… (they) outsmarted their competitors at trade.The Arabs soon succeeded in eating deeply in to the hearth of Byzantine economic power by setting themselves up as traders of extraordinary acumen and persistence. In time, They dominated the major commercial contract that and served Byzantine so well for so long. Throghout all of the Byzantine sphere of influence, even as the built new commercial relationships all along the shouthern Mediteranean. The Arab ships plied the sea down the east coast of Afrika and across the oceans to India, and China in search of profit. They even reveled northward, through the river highways Of Russia, to the Scandanavian countries, trading merchandise acquired from across the seas for furs, amber, honey and slavesSaat ini contoh yang paling dekat dengan kemampuan dagang yang dilukiskan Alquran mungkin Singapura atau Hong Kong, negeri yang miskin sumberdaya alam tetapi mampu menggerakkan dan mengontrol alur ekspor di regional Asia Tenggara dan Pasifik. Sementara Indonesia, yang luas salah satu provinsinya (Riau) 50 kali Singapura, dengan potensi ekspor dan sumberdaya alam yang ribuan kali lipat, ternyata jauh tertinggal. Mungkin kita harus bercermin pada Alquran dan hadits yang selama ini kita tinggalkan untuk urusan bisnis dan ekonomi. (Abdullah Haris)

Jika pertanyaannya : apakah jiwa ‘dokter’ bisa menyatu dengan jiwa ‘pedagang’. Jawabannya adalah apa yang diuraikan diatas sudah sangat memadai. Jika dokter memiliki kaidah-kaidah sangat kuat dan berpegang teguh pada ajaran-ajaran langit, maka tidak perlu ada kecemasan yang berlebihan.

Tetapi apa yang dipertanyakan salah seorang guru besar oftalmologi masih bisa dikritisi : spirit kritis-nya bisa betul, tapi beliau berangkat dari definisi dagang ‘kapitalis’bukan dari kaidah-kaidah baku agama? Jika dilihat dari persepsi kapitalis maka tidak ada ruang bagi pengabdian kepada mereka yang miskin?Belum tentu betul juga.Dari manakah DANA BAKSOS KATARAK? Bukankah semua penyandang dana BAKSOS KATARAK adalah para pemegang kekuasaan ekonomi kapital yang anda kritisi? Bukankah kita hanya ‘tukang’ operasi katarak, sedangkan dana-dana ‘amal’nya dari mereka yang kita kritisi.Sungguh memilukan bukan?Apakah kekritisan kita juga berbanding lurus dengan amal kita, misalnya kita adalah yang paling hebat dalam amal saleh baksos-nya? Belum tentu juga bukan.

1. Sungguh, baru kali ini saya menghadiri Scientific Meeting dimana sebuah sesi yang bernama Entrepreneurship Program diletakkan berurutan setelah Plenary Lecture. Mungkin Panitia menganggap sesi ini sedemikian pentingnya sehingga ditempatkan pada posisi yang begitu terhormat. Dan, baru kali ini juga saya memperoleh sebuah istilah baru, Doctorpreneurship !. Terminologi Doctorpreneurship ini muncul pada presentasi dr. Darwan Purba yang berjudul ; “Doctorpreneur : Is It Possible ?”.

MANA YANG PENTING DAN TIDAK, TIDAKLAH PENTING!

Sejauh saya tahu, scientific meeting hanyalah wadah atau ‘majelis ilmu’ untuk menggali ilmu dan pengetahuan ihwal teknologi yang berkembang yang mungkin bisadimanfaatkan  dan disumbangkan melalui tangan kita untuk ‘melayani’ mereka yang membutuhkan. Urutan enterpreneuship setelah plenary lecture dan siapa yang menjadi pembicara tidaklah serta merta menunjukkan siapa yang memiliki posisi terhormat, siapa yang tidak. Dalam kaidah akhlak – seluruh manusia yang hadir pada suatu ‘majelis ilmu’ adalah manusia-manusia terhormat dan mulia yang berkenan melangkahkan kakinya menuju tempat-tempat ilmu dipresentasikan.

2. Diantara presentator yang berbicara pada sesi Entrepreneurship Program ini ialah Bpk. Chairul Tanjung, konglomerat ‘kelas kakap’ dan Bpk. Robby Djohan, yang dalam programme highlights , disebut sebagai CEO of Various Big Company in Indonesia. Dan tentu saja, sejawat dr. Darwan Purba  sebagai founder Jakarta Eye Centre, yang telah  kita kenal kiprahnya dan telah berhasil memperoleh national award sebagai entrepreneur yang sukses.

Terhadap pandangan nomor 3 ini saya hanya berpendapat sebagai berikut : janganlah minder terhadap pembagian ‘kelas’ yang dibuat manusia semisal ‘kelas kakap’ dan ‘kelas teri’. Bukankah manusia dihadapan Tuhan sama, yang membedakannya hanyalah ketaqwaan-nya. Kemuliaan manusia bukan bukan karena ‘kelas’ mereka di dunia ini.Dengan dasar pikir seperti ini maka kita bisa membangun rasa percaya diri yang kuat menghadapi ‘kelas’ macam apapun.

3.  Pesan moral yang ingin digulirkan lewat konsep pemikiran ( paradigma ) Doctorpreneurship ini sebetulnya sangat mulia. Disebutkan, bahwa sebagai dokter mata Indonesia, kita harus ‘melek’ terhadap perkembangan teknologi dan ekonomi baik yang berskala global maupun regional . Kita harus menumbuhkan semangat kewiraswastaan khususnya terkait dengan bisnis di bidang kesehatan mata. Kita tidak boleh hanya sekedar menjadi penonton yang duduk diam berpangku tangan, terlebih lagi di saat ‘pihak asing’ menyerbu ‘rumah’ kita . Kita harus berani mengambil risiko untuk ikut ‘bermain’ di dalamnya. Oleh salah seorang pembicara, hal ini diilustrasikan dengan sekumpulan bebek di tepi kali yang menonton ‘seorang’ temannya yang berani meniti jembatan untuk menyeberang ke tepi kali lainnya.

 4.      Paradigma Doctorpreneurship ini segera dikritik oleh Robby Djohan. Menurut ekonom kondang ini, adalah mustahil untuk mengawinkan ‘dokter’ dengan ‘pebisnis’ di dalam satu personalitas’. Kenapa ?. Karena, kedua profesi ini memiliki sejumlah watak yang – secara inherent- bertolak belakang secara antagonistis. Ambil contoh, salah satu prinsip dalam ekonomi kapitalis ialah berusaha memperoleh keuntungan sebesar – besarnya dengan modal sekecil – kecilnya dan dengan cara apapun ( by any means ) . Atau dalam kacamata dunia bisnis misalnya, para pesaing ( competitor ) adalah pihak – pihak yang harus saling ‘melumpuhkan’ atau ‘mematikan’ satu sama lain. Pertanyaannya ialah, apakah watak dunia bisnis yang ‘keras’ semacam ini senafas dengan karakter seorang dokter yang dituntut bekerja tanpa pamrih, keharusan melayani dengan tulus dan ikhlas serta penuh kasih sayang, peduli terhadap sesama , memperlakukan rekan sejawatnya yang lain  seperti saudara sekandung serta tidak memikirkan keuntungan materi demi memperkaya diri pribadi dalam melayani pasien ?. Motto yang dikutip Prof Sidarta Ilyas menjawab singkat ; ” menjadi dokter itu adalah baik , menjadi pedagang juga baik, dokter yang pedagang tidak baik “

Dalam Islam kegiatan perdagangan itu haruslah mengikuti kaidah-kaidah dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah.Aktivitas perdagangan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang digariskan oleh agama mempunyai nilai ibadah.Dengan demikian, selain mendapatkan keuntungan-keuntungan materiil guna memenuhi kebutuhan ekonomi, seseorang tersebut sekaligus dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.Usaha perdagangan yang didalamnya terkandung tujuan-tujuan yang eskatologis seperti ini dengan sendirinya mempunyai watak-watak khusus yang bersumber dari tata nilai samawi.Watak-watak yang khusus itulah merupakan ciri-ciri dari perdagangan yang Islami sifatnya, dan ini tentu saja merupakan pembeda dengan pola-pola perdagangan lainnya yang tidak Islami. Apalagi disandingkan dengan defibisi kapitaslis, maka semakin signifikan perbedaan diantara spirit kedua-nya.

Watak ini menjadi karakteristik dasar yang  menjadi titik utama pembeda antara kegiatan perdagangan Islam dengan perdagangan lainnya, yaitu perdagangan yang dilakukan atas dasar prinsip kejujuran, yang didasarkan pada system nilai yang bersumber dari agama Islam, dan karenanya didalamnya tidak dikenal apa yang disebut zero sum game, dalam pengertian keuntungan seseorang diperoleh atas kerugian orang lain. Dengan kejujuran dan aspek spiritual yang senantiasa melekat pada praktek-praktek pelaksanaannya, usaha perdagangan yang terjadi akan mendatangkan keuntungan kepada semua pihak yang terlibat. Perdagangan yang dilakukan dengan cara yang tidak jujur, mengandung unsur penipuan (gharar), yang karena itu ada pihak yang dirugikan, dan praktek-praktek lain sejenis jelas merupakan hal-hal yang dilarang dalam Islam. Sehingga moto yang tidak baik adalah seperti ini :” menjadi dokter itu adalah baik , menjadi pedagang juga baik, dokter yang pedagang bersifat KAPITALIS tidak baik “. Inipun masih patut kita pertanyakan : apakah dokter yang hanya menjadi dokter saja dan bukan pedagang, semuanya serta merta menjadi baik? Tidak juga bukan.

1. Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi. Halal dan Haram dalam Islam, Bab IV point 4.2, bagian Muamalah          2.Wikipwdia homepage                                                                                                                                                                                     3.LIPI,abstrak Sistem Perdagangan Dalam Islam

5. Dr. Sribudi Rahardjo, ‘senior’ saya di kepengurusan Perdami Cabang Bekasi, juga mengkritik Doctorpreneurship  yang menjadi  basis paradigma dari  munculnya  “pusat – pusat pelayanan kesehatan mata eksklusif berbiaya tinggi” buat masyarakat menengah atas atau kelas atas . Di daerah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, tutur beliau ketika menceritakan pengalaman pribadinya, pasien bahkan tidak sungkan – sungkan melakukan ‘tawar menawar’ dengan dokternya soal tarif biaya operasi katarak . Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat lainnya tidak mampu membiayai secara mandiri operasi katarak yang harus mereka jalani.

6. Ini semua terjadi karena kemampuan daya beli masyarakat di daerah yang masih amat rendah. Memaksakan berdirinya ‘pusat pelayanan kesehatan mata ekslusif berbiaya tinggi ‘ di daerah justru kontraproduktif dengan upaya penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan yang diderita oleh sebagian besar masyarakat miskin atau masyarakat dengan tingkat sosioekonomi lemah. Jangan – jangan, tema Temu Ilmiah ini, sindir dr. Sribudi, harus kita ganti menjadi Blindness is Our Opportunity.

Apakah presentasi doctorpreneurship melahirkan pusat kesehatan mata eksklusif berbiaya tinggi?Itu jalan pikir dari sisi sosialis-kapitalisme.Sepengetahuan saya tidak selalu demikian adanya. Ada perbedaan tajam antara 1) pusat pelayanan kesehatan mata eksklusif dengan 2) Eye Center yang memberikan “pelayanan eksklusif” dalam konteks memberikan pelayanan sungguh-sungguh dengan keahlian dan teknologi tertinggi kepada mereka yang sakit untuk mendapatkan visual outcome yang paling baik sebagai penghormatan terhadap ciptaan Tuhan. Jelas sekali perbedaannya : nomor 1) menekankan pada prinsip-prinsip kapitalisme, sedangkan nomor 2) menekankan pada spirit/moral profesionalisme : memberikan kepada mereka yang membutuhkan pelayanan melaluin suatu tindakan diagnostik atau tindakan bedah atau tindakan apapun dengan cara-cara yang ‘sempurna’ mengacu pada profesionalisme tinggi atas dasar asma Allah. Dalam nomor 2) ini pemilik tidak berdasar pada prinsip-prinsip kapitalisme dengan memberikan kepada pasien beban biaya tinggi sebagaimana yang anda soroti.Lagi-lagi kembali pada watak yang mendasari pada niat awal.Niat awal kita RUBUBIYAH karena ALLAH SWT semata atau MONEY-iyah, semata-mata karena uang?

Maka jika sisi RUBUBIYAH yang mau dikedepankan TIDAK DIHARAMKAN merubah tema Temu Ilmiah menjadi Blindness is Our Opportunity. Kebutaan melahirkan kesempatan yaitu : kesempatan mengayomi dan mengabdi pada mereka yang buta tanpa memandang kaya atau miskin karena ALLAH SWT semata. Sebagaimana ALLAH Yang Maha Tinggi mengayomi seluruh ciptaan-NYA : yang kaya, yang miskin, yang beriman, yang kafir, yang saleh, yang durhaka, yang kapitalis, yang sosialis, yang sombong, yang rendah hati, yang sokbenar, yang sokpandai, yang mudah menerima pendapat, yang sulit menerima pendapat. Semua dalam pengayoman-NYA bukan.

Maka yang paling baik adalah melahirkan pelayanan kesehatan mata eksklusif berbiaya tinggi GRATIS untuk ‘kelas bawah’ melalui kedermawan hati kita.Bisa saja dr. Ricky Tsan memelopori eye center kelas premium untuk masyarakat yang kurang beruntung, misalnya melalui kedermawanan dr. Ricky sendiri. Subhanallah.Sungguh kasihan sekali masyarakat kita, dipilah-pilah menjadi berbagai kelas oleh kita sendiri.

Inilah akhlak dokter yang seharusnya terpatri dalam : 1) Sangat terasa oleh kita penderitaan yang sakit, 2) Sangat belas kasih terhadap mereka yang sakit, dan 2) Sangat ingin keselamatan mata mereka di tangan kita, dokter-nya.

7. Saling silang pandangan di seputar konsep Doctorpreneurship ini mencuatkan sejumlah pertanyaan.Pertama, apakah memang sudah saatnya sekarang kita menggadang – gadang pentingnya paradigma Doctorpreneurship ini di Indonesia ?.Kedua, Dengan penerapan Doctorpreneurship ini, bisakah kita berharap dokter mata Indonesia masih memiliki spirit  Blindness is Our responsibility sebagai bagian dari upaya kolektif kita bersama untuk mengatasi masalah kebutaan di Indonesia ?. Padahal kita tahu – seperti sudah dipaparkan – bahwa sebagian besar penyandang kebutaan di Indonesia berada pada lapisan masyarakat dengan ekonomi lemah.Dan terakhir, apakah memang sudah saatnya organisasi profesi Perdami mengkampanyekan dan menyosialisasikan paradigma Doctorpreneurship ini kepada para anggotanya dan menganggapnya bagian yang amat penting dari visi dan misi organisasi ?.

Menjawab pertanyaan terakhir ini, hanya ini yang bisa kami sampaikan : Sangat-lah kagum kami pada semua yang disampaikan dalam artikel dr. Ricky Tsan. Artikel itu tentu dilandasi dengan kecintaan pada profesi yang luhur. Rasa hormat kami tentu saja pada karya-karya kolega yang sudah sangat banyak berbuat untuk mereka yang buta dan miskin di seluruh permukaan bumi ini.Saya sangat yakin nama-nama yang disebut dalam artikel adalah mereka yang sudah sangat banyak beramal, berbuat dan berbakti sebagai panggilan hidup. Lebih dari apa yang telah kami lakukan. Dengan segala kerendahan kami dihadapan TUHAN yang Maha Pemurah.Kami yang hina dina ini, belumlah banyak melakukan apapun untuk mereka yang buta dan miskin yang bertebaran diseantero negeri tercinta, dari Sabang hingga Merauke. Kami hanyalah sekedar noktah dia alam semesta, yang hanya berikhtiar perbuatan dan amal-amal yang kecil-kecil saja, yang sangat tidak berartidibanding yang telah dilakukan teman sejawat lain.Sering sepanjang hidup selama ini, kami melakukan amal terhadap yang buta dan miskin sambil sembunyi-sembunyi – saking malunya – karena kecil dan tidak berartinya amal kami.Dengan kesadaran tinggi : kami tidak ingin dinilai oleh manusia dan tidak boleh mengharap terimakasih dari makhluk. Kiranya yang kecil dan tidak berarti ini bisa menyelamatkan kami dunya wal-akhirat sebagai bekal di keabadiaan kelak.

Semoga kita kelak bertemu di keabadiaan dalam Ridlo ALLAH SWT.

Mohon maaf lahir dan batin

Salam takzim saya

Budiman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s