WORLD SIGHT DAY,VISION 2020 DAN PGPK – 01

Oleh dr.Riki Tsan,SpM

 

Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa setiap hari Kamis minggu kedua di bulan Oktober, diperingati sebagai  World Sight Day atau Hari Penglihatan Sedunia. World Sight Day ( WSD ) adalah hari keperdulian masyarakat internasional ( international awareness ) terhadap  berbagai  isu  global yang berkaitan dengan masalah kebutaan dan gangguan penglihatan yang diderita oleh sebagian penduduk dunia.

Catatan terakhir dari World Health Organization  (  Badan kesehatan Dunia ) memperlihatkan  setidaknya ada sekitar 285 juta penduduk dunia yang mengalami masalah dalam penglihatan. Sedikitnya 39  juta orang diantaranya menderita kebutaan, sedangkan 246  juta orang lainnya mengalami gangguan penglihatan pada tingkat sedang dan berat . Lebih lanjut dilaporkan bahwa setiap tahun  tidak kurang dari 7 juta orang di berbagai belahan dunia ini mengalami kebutaan.  Artinya, setiap 5 detik sekali, satu orang diantara penghuni planet bumi ini mengalami kebutaan. Ironisnya, kurang lebih 90 %  penduduk dunia yang menderita kebutaan dan gangguan penglihatan ini hidup di negara – negara miskin dan terbelakang.

Menurut prediksi  World Health Organization   ( WHO ) ,  jika keadaan seperti ini dibiarkan begitu saja tanpa dilakukan tindakan tindakan yang signifikan  , sistematis dan terintegrasi, maka diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penduduk dunia yang menderita kebutaan akan membengkak menjadi dua kali lipat atau kurang lebih 80 sampai 90 juta orang. Sungguh, sebuah tragedi kemanusiaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya !.

Tentu saja, kenyataan ini menjadi sangat kontras di tengah tengah gencarnya masyarakat dunia menggadang – gadang pentingnya hak hak azasi manusia. Siapapun tidak dapat menyangkal bahwa hak untuk memperoleh penglihatan yang optimal ( right to sight ) merupakan salah satu hak azasi manusia yang harus dijamin ketersediaannya.  Apalagi fakta – fakta memperlihatkan tidak kurang dari 80 % penyebab kebutaan ini termasuk ke dalam – apa yang disebut sebagai – Avoidable Blindness atau penyebab kebutaan yang sesungguhnya dapat dihilangkan atau dicegah.

Berangkat  dari kenyataan  di atas,  setelah melalui serangkaian kegiatan dan aktivitas keorganisasian dan kelembagaan, maka muncullah sebuah program yang disebut dengan Vision 2020 : Right to Sight. Vision 2020 , yang dicanangkan pertama kali pada tahun 1999 , adalah sebuah inisiatif global yang bertujuan untuk mengeliminasi avoidable blindness atau mengurangi jumlah penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan serta  menargetkan pada tahun 2020 masyarakat dunia akan memperoleh hak mereka untuk memperoleh penglihatan yang optimal.

Vision 2020 merupakan joint programme  yang diprakarsai oleh WHO dengan International Agency for the Prevention of Blindness ( IAPB ) , sebuah organisasi yang memayungi berbagai kelompok profesi dan organisasi non pemerintah    yang bergerak di bidang pelayanan kesehatan mata masyarakat.

Dalam perkembangan selanjutnya, Vision 2020 ini memperoleh komitmen politik yang kuat tatkala pada World Health Assembly ke-56, tahun 2003, disahkan secara resmi lewat resolusi WHA56.26 di bawah judul Elimination of Avoidable Blindness’ . Dengan mengadopsi resolusi ini, maka semua negara anggota diharuskan menjalankan program Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan ( PGPK ) dan  serta memasukkannya ke dalam agenda kesehatan nasional di negara masing – masing. Lebih dari 40 negara telah menandatangani resolusi ini, termasuk diantaranya Indonesia.

( Bersambung )

One response

  1. Sri Sutarsih lukman | Reply

    Good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s