OPINI

DOKTER KU SAYANG, DOKTERKU MALANG.

By dr. Riki Tsan,SpM

Institusi pendidikan dokter dan pusat pusat pelayanan kesehatan di Indonesia kini sudah bermetamorfosis menjadi sebuah investasi bisnis yang sangat menggiurkan. Bagaimana tidak menggiurkan, jika seorang anak manusia yang mau memasuki fakultas kedokteran diharuskan mengeluarkan biaya minimal 200 sampai 300 juta rupiah , maka bayangkanlah berapa besar uang yang akan diraup oleh pihak fakultas yang bersangkutan jika sekali masa penerimaan ada 200 sampai 300 orang yang mendaftar.

Karena itu tidak heran, akhir akhir ini kita menyaksikan banyaknya bermunculan fakultas fakultas kedokteran, bak jamur tumbuh di musim hujan ,  khususnya di universitas universitas swasta. Sebagian besar Pendidikan Dokter di fakultas fakultas ini dijalankan dengan sarana dan pra sarana yang se’adanya’, infrastruktur yang tidak memadai, staf pengajar yang kurang kualitatif dan sistim pendidikan yang tidak kredibel. Prinsip mereka, pokoknya buka saja dulu, masalah kualitas urusan belakangan !.

Mereka umumnya tidak memiliki ‘hospital teaching’ sebagaimana halnya  fakultas fakultas kedokteran di universitas negeri yang selama ratusan tahun diyakini berfungsi sebagai kawah candra dimuka untuk menggodok dan menempa calon calon dokter dengan tradisi dan kultur khas-nya.

Anehnya, mereka tidak malu malu mematok biaya yang luar biasa besarnya untuk bisa menempuh pendidikan dokter di fakultasnya. Pemerintah diam. Parlemen juga bungkam. Kita tidak bisa membayangkan dokter kualitas seperti apa yang akan dilahirkan dari institusi pendidikan semacam ini ?.

Di satu sisi, aturan dan regulasi yang berlaku di negara ini memang sangat tidak kondusif untuk kehidupan profesi dokter. Lihatlah, betapa merananya nasib para dokter di Indonesia.

Setelah menjalani masa pendidikan dokter yang sangat lama , mereka harus menjalani program dokter internship dengan memperoleh honor sebesar Rp. 1.2 juta per bulan, tidak perduli dimanapun dia ditempatkan di seluruh pelosok Indonesia. Itupun, katanya, pembayaran gajinya dirapel setiap tiga bulan sekali. Tanpa uang kost, tanpa uang makan dan tanpa uang transport !.

Lantas, jika ia berhasil terpilih menjadi pegawai negeri sipil, dia hanya akan memperoleh golongan 3B. Si dokter akan mendapatkan gaji pokok lebih kurang Rp.2.2 juta plus tunjangan fungsional sebesar Rp.300 ribu, sehingga total pendapatan yang ia bawa pulang ke rumah tidak lebih dari Rp.2.6 juta. Lalu, bagaimana kalau kerja di klinik klinik swasta ?. Samimawon !.

Tahukah anda bahwa uang duduk seorang dokter umum di Klinik 24 Jam misalnya, rata rata Rp. 100 ribu dalam sehari semalam. Lebih mengenaskan lagi, untuk jasa mediknya si dokter cukup diberi upah 1000 perak ( baca sekali lagi, seribu perak ! ) per pasien !. Untuk memarkir sebuah sepeda motor saja, anda harus merogoh kocek 2000 perak. Jadi, rupanya tukang parkir yang kerjanya santai dan masih bisa ketawa ketiwi itu lebih besar pendapatannya dibandingkan dokter yang kerjanya ‘babak belur ‘sepanjang siang dan malam serta harus ‘melek’ melayani pasien pasiennya !. Ironis !

Tidak sampai disini kisah kemalangan sang dokter.

Di tengah tengah masyarakat, profesi dokter dipuja puji sebagai profesi yang sangat luhur dan suci. Karena itu, seorang dokter dituntut harus bekerja secara sosial, tulus dan ikhlas serta sedapat mungkin jangan memikirkan upah yang akan diperolehnya. Dia harus siap 24 jam sehari semalam jika pasien membutuhkannya dan pengobatan yang diberikannya haruslah bisa memuaskan pasien.

Di sisi lain, dokter juga diharapkan untuk mengabdi habis habisan, memperbanyak dosis kesabaran serta harus bersedia berkorban demi terlaksananya berbagai kegiatan dan program yang dijalankan oleh pemerintah, seperti ‘Kota Sehat’ dan berbagai program berbau ‘politik’ lainnya.

Namun, ketika dokter dirundung sial karena adanya ‘dugaan kesalahan pengobatan’, misalnya , para sejawat kita ini segera dihujat di berbagai media publik, dituduh melakukan malpraktek, seakan akan kesalahan yang belum terbukti kebenarannya itu merupakan dosa tercela yang tak terampuni , yang harus dipikul sendiri oleh mereka, bahkan mungkin juga oleh keluarganya.

Lantas, bila perlu jadikan mereka sebagai pesakitan dan seret mereka ke depan sidang pengadilan dengan tuntutan minimal 500 juta rupiah atau penjarakan !. Tidak ada pembelaan buat kita. Semuanya diam membisu. Sungguh, malang benar nasib dokter di Indonesia !.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s