KEMEGAHAN PIT PERDAMI & KOLAPS NYA DHARMAIS…….

FOTO DIRI SAMPING     by Dr.Riki Tsan,SpM 
???????????????????????????????( Ini adalah tulisan lama, 6 tahun yang silam yang pernah dimuat di tabloid Perdami bernama VISI,Vol XVIII No.1, Juni 2007, halaman 5. Suasana menjelang pelaksanaan PIT Perdami ke-33 tahun 2007 di Jakarta dan dinamika pemikiran terkait dengannya. Beberapa bagian dari artikel ini mungkin sudah tidak aktual lagi untuk masa kini )
 
JAKARTA CONVENTION CENTRE

Tidak lama lagi Pertemuan Ilmiah Tahunan ( PIT ) organisasi Perhimpunan Dokter Ahli Mata Indonesia ( Perdami ) digelar di Jakarta. PIT Perdami yang ke 33 ini akan berlangsung di sebuah tempat yang ditengarai paling bergengsi di ibu kota Jakarta, yakni gedung Jakarta Convention Centre ( JCC ). Untuk memeriahkan acara, khabarnya pada malam pembukaan panitia PIT berencana menghidangkan sebuah ‘entertaintment’ dengan berbagai acara hiburan disertai artis dan selebritis ibukota. ‘Kenduri’ besar ini akan dihadiri tidak kurang dari seribu orang dokter mata dari seluruh Indonesia, para residen mata dari seluruh institusi pendidikan dan para insan medis lainnya seperti perawat, refraksionis dan lain – lain. Mereka akan menginap di berbagai hotel di sekitar gedung JCC.

Bahkan boleh jadi jumlah orang yang datang ke Jakarta akan membengkak seiring dengan tibanya masa liburan anak sekolah yang waktunya cukup panjang. Sebagaimana penyelenggaraan PIT – PIT terdahulu, para peserta – khususnya dari daerah diluar Jakarta – tentu tidak akan menyia –nyiakan kesempatan ini- mereka akan memboyong sanak keluarganya ke ibu kota negara untuk bersama – sama meramaikan PIT Perdami, ya sekalian dimanfaatkan buat rekreasi dan berbelanja.

Tentang keluarga, rekreasi dan belanja, saya punya cerita menarik. Pernah di satu PIT, di sebuah hotel, saya  menyaksikan seorang teman sejawat yang datang dengan rombongan anggota keluarga yang sangat lengkap ; anaknya saja ada 3 orang ditambah seorang bayi yang berada di dalam dekapan sang istri plus orang tua si sejawat dan adik istrinya. Saya membatin ; ‘ sayang betul dia dengan keluarganya!’. Pagi itu mereka sedang menunggu mobil jemputan dari sebuah perusahaan farmasi tertentu yang akan membawa mereka mengunjungi sebuah tempat rekreasi dan pusat perbelanjaan terkenal di kota tersebut!. Saya tidak bisa membayangkan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan oleh sejawat ini untuk pesawat terbang,hotel dan acara jalan – jalannya. Namun, saya yakin dia tidak perlu risau memikirkan hal itu karena  – sudah bukan rahasia lagi – pasti ada saja perusahaan farmasi yang bersedia menanggulangI semua biaya  itu !.

Untuk mensukseskan acara PIT dengan ‘pernik – perniknya’ itu, tentu saja panitia dan mitra kerjanya harus menggelontorkan uang milyaran rupiah. Kendatipun demikian buat sementara orang, biaya PIT sebesar ini dinilai tidak setara dengan kenyataan yang terjadi di dalam  kegiatan PIT serta hasil  riil yang diperoleh setelah  kegiatan PIT usai.

SUASANA KEMERIAHAN PIT

SUASANA KEMERIAHAN PIT

Misalnya, soal  partisipasi peserta di dalam menghadiri sesi sesi presentasi. Pernah di satu PIT, saya menghadiri sebuah sesi free paper yang menyajikan presentasi dari 5 pembicara. Ketika pembicara terakhir muncul, audiencenya cuma tinggal 2 orang; saya dan seorang sejawat yang lain. Menyedihkan sekali!. Atau perhatikanlah ketika acara ilmiah sedang berlangsung, yang justru ramai diserbu peserta PIT adalah booth – booth para sponsor yang bertebaran di sekeliling ruang presentasi. Mereka menawarkan gimmick serta hadiah – hadiah yang sangat menawan seperti mobil, handphone, uang tunai dan lain – lain.

Biaya PIT yang besar dan dengan segala kemewahannya itu dianggap kontras jika misalnya dikaitkan dengan kesulitan dana yang kita alami dalam upaya menanggulangi kebutaan nasional yang sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Contohnya Projek Katarak Dharmais , yang sangat diandalkan untuk memerangi cataract backlog, belakangan tidak berjalan lagi di beberapa puskesmas  yang biasaya secara rutin menyelenggarakan kegiatan bakti sosial katarak.  Katanya, mereka sudah collapse , kehabisan uang!.

Atau PIT dengan segala kemewahannya itu terasa menyolok jika dilihat dari perspektif upaya rekan sejawat kita di  beberapa daerah yang kesulitan mencari dana untuk membiayai operasi katarak buat masyarakat miskin serta harus bersusah payah me-lobby pemerintah daerah setempat agar memasukkan anggaran dana tersebut ke dalam APBD . Padahal, sebagian uang yang kita pergunakan untuk membiayai PIT serta untuk ‘berfoya – foya’ ( meminjam ungkapan sejawat dr. Bondan H di milis Perdami ) itu –  bukanlah gratis kita peroleh begitu saja. Semua uang ini berasal dari pasien – pasien kita yang diambil oleh mitra kerja kita lewat tangan – tangan kita.

Bahkan menurut hemat saya, tangan – tangan ‘bisnis’ pun sudah mulai masuk kedalam konstelasi pelayanan kita lewat penggunaan alat – alat yang super canggih. Salah satu indikasinya ialah  ‘perang iklan’ yang terjadi diantara rumah sakit/klinik mata di Jakarta seperti  sering termuat di media massa nasional. Sebuah  situasi yang membuat kita saling  ‘berseberangan’ satu sama lain. Mereka mengiklankan alat diagnostik/terapi yang mereka miliki bahkan bila perlu dengan cara – cara yang tidak lagi memperdulikan Etika Promosi Pelayanan Kesehatan seperti  mempromosikan kecanggihan , kehebatan dan keberhasilan alat tersebut serta menayangkan testimony para selebritis ternama.

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh dr. Bondan Hariono , bahwa ‘yang kita perlukan bukan kemewahan lokasi acara, bukan “gratis”-nya tiket dan hotel, alangkah baiknya jika kita dapat membuat PIT lebih sederhana yang dengan demikian akan menghemat biaya pengeluaran.

Sebagian dana yang berasal dari para mitra kerja akan kita manfaatkan buat proyek – proyek yang dapat dirasakan langsung seperti aktivitas – aktivitas ilmiah dan kemasyarakatan atau membiayai berbagai program kegiatan yang sangat penting dan betul – betul mendesak seperti Rencana Strategis Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (Renstra PGPK ) yang telah  disepakati oleh Departemen Kesehatan RI dan organisasi profesi Perdami pada tahun 2003. Dalam kenyataannya, setelah berjalan hampir 4 tahun, Renstranas PGPK ini tidak mencapai hasil maupun target yang diharapkan, dan salah satu kendalanya – menurut saya – adalah problem kekurangan dana!.

Salam sejawat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s